Di tengah permukiman penduduk dan jalanan tanah yang menghubungkan rumah-rumah warga Dusun IV Tani Makmur, berdiri sebuah bangunan sederhana, apik dan penuh arti: Balai Desa Mekar Makmur. Seperti dikunjungi JWD Mekar Makmur, kamis 14 Agustus 2025 lalu, di sinilah denyut pelayanan publik berdetak setiap hari, menjadi jembatan antara kebutuhan warga dan solusi yang mereka harapkan.
Dipimpin oleh Suwito, kepala desa yang dikenal ramah dan terbuka, balai desa ini terus berbenah. Tak hanya soal bangunan fisik, tetapi juga semangat melayani yang tumbuh dari dalam. “Kami ingin warga merasa bahwa balai desa ini bukan sekadar kantor, tapi rumah bersama,” ujar Suwito dalam sebuah percakapan santai di beranda balai desa.
Setiap Senin hingga Jumat, pukul 08.00 hingga 15.00, balai desa membuka pintunya bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan. Dari pengurusan administrasi kependudukan, surat menyurat, hingga bantuan sosial, semua dilayani dengan pendekatan yang hangat dan solutif.
Ajeng, seorang warga yang datang untuk mengurus bantuan sosial, membagikan pengalamannya. “Syaratnya sederhana, cukup bawa KK dan KTP. Tapi yang paling penting, kita datang dan bicara langsung. Di sini, kita didengar,” katanya sambil tersenyum.
Bagi banyak warga, balai desa bukan hanya tempat mengurus dokumen. Ia menjadi ruang harapan, tempat di mana masalah sehari-hari—dari kehilangan dokumen hingga kesulitan ekonomi—dicarikan jalan keluarnya. Pelayanan yang diberikan bukan hanya administratif, tapi juga emosional: mendengarkan, memahami, dan membantu.
Balai Desa Mekar Makmur mungkin tak megah, tapi ia berdiri kokoh sebagai simbol kedekatan antara pemerintah desa dan masyarakat. Di sinilah pelayanan menjadi cerita, dan setiap warga menjadi tokoh utama dalam perjuangan membangun desa yang lebih baik. (Nur Anggi Pratiwi | JWD Mekar Makmur)
Rini Marwati (Guru SD )
01 Oktober 2025 15:39:04
Saya amat sangat tidak setuju dengan adanya lima hari kerja sekolah untuk anak SD.Memangnya mereka mau...