Di Dusun III Tani Makmur, di sebuah rumah sederhana yang diteduhi pohon mangga tua, berdiri sebuah usaha kecil yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga: toko sembako “Sumber Rejeki.” Di balik etalase plastik dan rak-rak kayu yang tersusun rapi, Bu Suparmi, 52 tahun, menyambut setiap pembeli dengan senyum hangat dan sapaan yang tulus.
Usaha ini bermula pada tahun 2007, saat Bu Parmi—seorang ibu rumah tangga lulusan SD—memutuskan untuk membuka toko kecil di depan rumahnya. Modalnya terbatas, hanya cukup untuk membeli beras, gula, minyak goreng, dan mie instan. Tapi ia punya dua hal yang tak ternilai: kejujuran dan keramahan. “Saya nggak punya keahlian khusus, tapi saya ingin cari rejeki yang halal,” ujarnya sambil menata telur di rak.
Kepercayaan warga tumbuh seiring waktu. Tetangga merasa nyaman berbelanja di toko Bu Parmi, bukan hanya karena harga yang bersaing, tapi juga karena suasana yang akrab. “Kalau belanja di sini, rasanya seperti ngobrol sama keluarga,” kata Ibu Sari, pelanggan tetap yang datang setiap pagi.
Melihat antusiasme warga, Bu Parmi mulai menambah barang dagangannya: sabun, telur, kopi, bahkan kebutuhan dapur lainnya. Ia juga menjalin kerja sama dengan supplier lokal agar bisa mendapatkan harga grosir yang lebih murah. Strategi sederhana ini membuat tokonya tetap kompetitif, meski bersaing dengan minimarket yang mulai menjamur.
Toko “Sumber Rejeki” bukan hanya tempat jual beli. Ia menjadi titik temu warga, tempat berbagi kabar, bertukar cerita, dan saling menguatkan. Di sana, ekonomi lokal berdenyut pelan tapi pasti—digerakkan oleh tangan-tangan ibu rumah tangga yang tak menyerah pada keterbatasan.
Bu Parmi tak pernah membayangkan usahanya akan bertahan selama hampir dua dekade. Tapi baginya, setiap sen yang ia hasilkan adalah bukti bahwa kerja keras dan niat baik tak pernah sia-sia. “Yang penting, saya bisa bantu orang, dan anak-anak saya bisa sekolah,” ucapnya, matanya berbinar.
Dari teras rumahnya, Bu Parmi telah membuktikan bahwa rezeki bisa tumbuh di mana saja—asal ada ketulusan, keberanian, dan cinta pada sesama. (Dita Octaviani | JWD Mekar Makmur)
Rini Marwati (Guru SD )
01 Oktober 2025 15:39:04
Saya amat sangat tidak setuju dengan adanya lima hari kerja sekolah untuk anak SD.Memangnya mereka mau...