Bulan madu biasanya identik dengan pantai tropis, resor mewah, atau kota-kota romantis dunia. Namun bagi Rene dan Jesica, pasangan suami istri asal Swiss, bulan madu berarti menyatu dengan alam liar. Mereka memilih Dusun V Damar Hitam, Desa Mekar Makmur, Kec Sei Lepan, Langkat, sebuah dusun kecil di pinggiran Taman Nasional Gunung Leuser, sebagai destinasi impian mereka—tempat di mana gajah Sumatera masih berkeliaran bebas di ladang masyarakat.
Dusun V Damar Hitam bukan sekadar desa biasa. Ia berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Gunung Leuser, rumah bagi spesies langka seperti orangutan, harimau, dan tentu saja gajah Sumatera. Di sini, konflik antara manusia dan satwa liar bukan hal baru. Namun sejak tahun 2007, warga membentuk Lembaga Permata Rimba Damar Hitam (LPRD), sebuah kelompok lokal yang menjadi jembatan antara petani dan pihak konservasi.
Alih-alih memusuhi gajah yang kerap merusak ladang, LPRD bersama masyarakat mulai melihat peluang: bagaimana jika kehadiran gajah justru menjadi berkah? Dari sinilah lahir gagasan wisata konservasi berbasis komunitas—dan Rene serta Jesica menjadi pasangan pertama yang menjajalnya sebagai bagian dari bulan madu mereka.
Pada Jumat, 24 Oktober 2025, mereka tiba di dusun dengan semangat penuh. Didampingi anggota LPRD, perjalanan dimulai dengan sepeda motor menyusuri jalan setapak, lalu dilanjutkan dengan trekking kaki menuju lokasi yang diyakini sebagai jalur lintasan gajah. Suara gemuruh teriakan gajah menyambut mereka dari kejauhan, menggema di antara pepohonan bambu dan semak belukar. Jesica mengaku jantungnya berdegup kencang, namun rasa takut segera berubah menjadi kekaguman.
Dari jarak sekitar 15 meter, mereka menyaksikan langsung sekelompok gajah Sumatera sedang menikmati santapan sore: bambu muda dan pucuk daun. Rene tampak tenang, sementara Jesica tak henti mengabadikan momen dengan kamera. “Saya sangat puas melihat gajah liar yang masih hidup di alam bebas. Ini pengalaman yang tak akan saya lupakan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Momen itu bukan hanya tentang melihat gajah. Ini adalah pertemuan spiritual antara manusia dan alam, antara cinta dan konservasi. Di akhir kunjungan, mereka melambaikan tangan kepada kawanan gajah, seolah mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat dari alam Sumatera.
Bagi warga Damar Hitam, kunjungan Rene dan Jesica adalah bukti bahwa wisata konservasi bisa menjadi jalan baru. Dusun ini tak hanya menawarkan pengalaman melihat satwa liar, tapi juga membuka ruang edukasi tentang konflik manusia-satwa, pelestarian hutan, dan kehidupan komunitas yang selaras dengan alam. Paket wisata bisa mencakup trekking, pengamatan satwa, kuliner lokal, hingga menginap di rumah warga.
“Gajah bukan ancaman. Mereka adalah bagian dari ekosistem yang harus kita jaga bersama. Kalau wisatawan bisa datang dan belajar dari sini, maka hutan kita punya masa depan,” ujar Sumardianto, Ketua LPRD.
Bulan madu Rene dan Jesica mungkin telah usai, tapi kisah mereka akan terus hidup. Di antara rumpun bambu dan jejak kaki gajah, cinta mereka menyatu dengan semangat konservasi. Dan Dusun V Damar Hitam, tempat terpencil yang menyimpan kekayaan luar biasa, kini siap menyambut dunia.
Suparno | JWD Mekar Makmur
Rini Marwati (Guru SD )
01 Oktober 2025 15:39:04
Saya amat sangat tidak setuju dengan adanya lima hari kerja sekolah untuk anak SD.Memangnya mereka mau...