Semangat kebersamaan kembali menyala di Dusun V Damar Hitam, Desa Mekar Makmur, Kecamatan Sei Lepan, Langkat. Pada Minggu, 19 Oktober 2025, Lembaga Permata Rimba Damar Hitam (LPRD) menggelar kegiatan gotong royong membersihkan akses jalan menuju pos monitoring hutan di kawasan Lubuk Simpur. Kegiatan ini melibatkan anggota LPRD bersama masyarakat setempat yang antusias turut serta, terutama para warga yang gemar memancing.
Lubuk Simpur bukan sekadar lokasi monitoring hutan—ia menyimpan sejarah dan harapan. Sejak awal pembentukan LPRD pada tahun 2007, lubuk ini dikenal sebagai lubuk larangan yang kaya akan ikan dan menjadi tempat favorit para pemancing. Semak belukar yang menutupi jalan menuju pos kini dibersihkan bersama, membuka kembali akses menuju kawasan yang selama ini menjadi simbol konservasi dan kebersamaan.
Ketua LPRD, Sumardianto, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari kesepakatan bersama untuk mengaktifkan kembali kelompok yang sempat vakum. “Kami ingin menumbuhkan kembali semangat gotong royong, terutama di kalangan generasi muda. Ini bukan sekadar bersih-bersih, tapi juga membangun rasa memiliki terhadap hutan kita,” ujarnya.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh beberapa Kepala Dusun dari wilayah sekitar, termasuk Dusun II dan Dusun IV. Kehadiran mereka menjadi penyemangat tersendiri bagi para peserta. “Kalau jalannya bersih begini, kita bisa sering mancing lagi,” kata Sulaiman (55), warga yang ikut serta sambil membawa alat pancingnya.
Sunardi, peserta lainnya, berharap kegiatan semacam ini bisa menjadi agenda rutin. “Kalau akses ke Lubuk Simpur terbuka, pemancing dari luar pasti datang lagi. Kita bisa sambut mereka dengan baik, dan hasilnya bisa menambah kas kelompok,” ujarnya sambil menikmati makan siang bersama peserta lainnya.
Manfaat kegiatan ini tak hanya dirasakan oleh para pemancing. Warga yang memiliki lahan di sepanjang jalan menuju Lubuk Simpur juga menyambut baik pembukaan akses tersebut. Mereka berharap aktivitas manusia yang meningkat dapat membantu memantau keberadaan satwa liar, terutama gajah, yang kerap melintas di kawasan tersebut. “Kalau malam masih ada orang memancing, satwa akan lebih mudah terdeteksi dan tidak sembarangan masuk ke ladang warga,” ungkap salah satu warga.
Pos monitoring hutan yang dibangun pada tahun 2008 ini pernah menjadi tujuan wisatawan mancanegara dari Australia, Jerman, hingga Kamboja. Hingga kini, kawasan hutan di sekitar pos masih terjaga dengan baik. Dengan aktifnya kembali LPRD, masyarakat berharap kawasan ini bisa dikembangkan menjadi ekowisata berbasis komunitas yang mengedepankan pelestarian alam dan kearifan lokal. Suparno | JWD Mekar Makmur
Rini Marwati (Guru SD )
01 Oktober 2025 15:39:04
Saya amat sangat tidak setuju dengan adanya lima hari kerja sekolah untuk anak SD.Memangnya mereka mau...